Selasa, 24 Desember 2013

KONSEP UKHUWAH ISLAMIYAH


UKHUWAH ISLAMIAH

NAMA           : NUR ISTIYAN
NIM                : D1041131049
FAKULTAS   : TEKNIK
PRODI           : TEKNIK INFORMATIKA
 Tugas             : Pendikar Muslim 2013


Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) / ukhuwah filLah (persaudaraan kerana Allah) ialah segugusan perasaan saling hormat menghormati, percaya mempercayai, mahabbah dan kasih sayang antara sesama individu atas asas aqidah Islamiyah, atau iman dan taqwa. 
Ukhuwah Islamiyah juga dapat diartikan sebagai suatu jalinan / perpaduan antara dua hati orang-orang beriman, yang tulus ikhlas, sama-sama menikmati; suasana kesetiaan dan kejujuran dalam persahabatan / persaudaraan, saling mendahulukan kepentingan saudara.
Ukhuwah Islamiyah adalah satu tuntutan agama. Firman Allah swt:
 إنَّمَا المُؤْمِنُونَ إِخْوَة
“Sesungguhnya orang yang beriman itu bersaudara.” [Qs.49 (al-Hujuraat):10] 
Firman ini menegaskan bahawa ukhuwah Islamiyah merupakan, nikmat suci yang menyinari hati-hati yang diridhai Allah swt, hati-hati yang sempurna iman. Suatu anugerah pemberian Allah Ar-Rahman Ar-Rahim kepada hamba-hambaNya yang benar-benar beriman dan benar-benar ikhlas. 
Ukhuwah Islamiyah / ukhuwah fillah,merupakan satu sifat yang mengiringi keimanan; Tiada ukhuwah tanpa iman dan tidak sempurna iman tanpa ukhuwah. Jalinan persahabatan tanpa keimanan hanya merupakan pertemuan karana kepentingan, saling bertukar budi, bila tiada lagi kepentingan, persahabatan itu pun luput dan lenyap ditelan masa. Keimanan yang tidak membuahkan ukhuwah, petanda iman tidak sempurna, iman yang tidak sihat yang memerlukan rawatan. 
Menurut Imam Hasan Al-Banna, ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) adalah keterikatan hati dan jiwa satu sama lain dengan ikatan aqidah.
Ukhuwah Islamiyah merupakan satu dari tiga unsur kekuatan yang menjadi karakteristik masyarakat Islam di zaman Rasulullah, yaitu pertama, kekuatan iman dan aqidah. Kedua, kekuatan ukhuwah dan ikatan hati. Dan ketiga, kekuatan kepemimpinan dan senjata.
Dengan tiga kekuatan ini, Rasulullah saw membangun masyarakat ideal, memperluas Islam, mengangkat tinggi bendera tauhid, dan mengeksiskan umat Islam atas muka dunia kurang dari setengah abad. Sekarang ini, kita berusaha memperbaharui kekuatan ukhuwah ini, karena ukhuwah memiliki pengaruh kuat dan aktif dalam proses mengembalikan kejayaan umat Islam.
Kedudukan Ukhuwah Islamiyah
Ukhuwah adalah nikmat Allah, anugerah suci, dan pancaran cahaya rabbani yang Allah persembahkan untuk hamba-hamba-Nya yang ikhlas dan pilihan. Allahlah yang menciptakannya. Allah berfirman:  “…Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu.” (QS: Ali Imran: 103).  “…Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara…” (QS: Ali Imran: 103).
Ukhuwah adalah pemberian Allah, yang tidak bisa dibeli dengan apapun. Allah berfirman:  “…Walaupun kamu membelanjakan semua (kakayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka… (QS: Al-Anfal: 63)”
Selain nikmat dan pemberian, ukhuwah memiliki makna empati, lebih dari sekadar simpati. Rasulullah Saw bersabda: “Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam kelembutan dan kasih sayang, bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakannya.” (HR. Imam Muslim).
Dengan ukhuwah, sesama mukmin akan saling menopang dan menguatkan, menjadi satu umat yang kuat. Rasulullah Saw. Bersabda: “Mukmin satu sama lainnya bagaikan bangunan yang sebagiannya mengokohkan bagian lainnya.” (HR. Imam Bukhari).
Adapun hubungannya dengan iman, ukhuwah diikat oleh iman dan taqwa. Sebaliknya, iman juga diikat dengan ukhuwah. Allah berfirman:  “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. (QS: Al-Hujurat: 10).” Artinya, mukmin itu pasti bersaudara. Dan tidak ada persaudaraan kecuali dengan keimanan. Jika Anda melihat ada yang bersaudara bukan karena iman, maka ketahuilah itu adalah persaudaraan dusta. Tidak memiliki akar dan tidak memiliki buah. Jika Anda melihat iman tanpa persaudaraan, maka itu adalah iman yang tidak sempurna, belum mencapai derajat yang diinginkan, bahkan bisa berakhir dengan permusuhan. Allah berfirman:  “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS: Al-Zukhruf: 67).
Tingkatan-tingkatan Ukhuwah
Tingkatan yang terendah dari ukhuwah adalah salamatush shadr, yaitu bersihnya hati kita dari perasaan iri, dengki, benci, dan sifat-sifat negatif lainnya terhadap saudara kita. Jika kita tidak bisa memberikan suatu kebaikan kepada saudara kita, paling tidak kita tidak memiliki perasaan yang negatif kepadanya. Termasuk juga dalam tingkatan yang terendah ini adalah selamatnya saudara kita dari kejahatan lisan dan tangan kita. Jangan sekali-kali kita melakukan kezhaliman kepada saudara kita. Adapaun tingkatan ukhuwah yang tertinggi adalah itsaar, yaitu lebih mementingkan dan mengutamakan saudara kita diatas diri kita sendiri. Inilah dahulu yang pernah dicontohkan oleh para sahabat Anshor kepada para sahabat Muhajirin di Madinah.



Keutamaan ukhuwah 
Keutamaan ukhuwah dapat dilihat daripada faedah-faedahnya yaitu : 
1.      Mendapat Kecintaan Allah swt. dan dilindungi dibawah Arsy-Nya di akhirat

Allah berfirman: “Di mana orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, maka hari ini aku akan menaungi mereka dengan naungan yang tidak ada naungan kecuali naunganku.” (HR. Imam Muslim). Rasulullah Saw. bersabda: “Ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di sebuah desa. Di tengah perjalanan, Allah mengutus malaikat-Nya. Ketika berjumpa, malaikat bertanya, “Mau kemana?” Orang tersebut menjawab, “Saya mau mengunjungi saudara di desa ini.” Malaikat bertanya, “Apakah kau ingin mendapatkan sesuatu keuntungan darinya?” Ia menjawab, “Tidak. Aku mengunjunginya hanya karena aku mencintainya karena Allah.” Malaikat pun berkata, “Sungguh utusan Allah yang diutus padamu memberi kabar untukmu, bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana kau mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR. Imam Muslim).

2.      Mendapat perlindungan Allah Ta’ala di hari akhirat  
Daripada Abu Hurairah r.a. bahawa RasululLah saw bersabda:
 “Pada hari kiamat, Allah akan berfirman (menyeru): “Manakah orang-orang yang (dulu semasa di dunia) saling mencintai kerana KeagunganKu? Hari ini Aku akan melindungi mereka, sebab hari ini tidak ada perlindungan selain daripada perlindunganKu.”” [Hadis Muslim] 
3.      Berada di atas mimbar-mimbar cahaya 
Hadis qudsi daripada ‘Ubadah bin Shomit, Allah swt berfirman; “KecintaanKu hanya untuk orang-orang yang saling mencintai, saling menghubungkan silaturrahim dan saling berkorban keranaKu. Orang-orang yang saling mencintai keranaKu, akan berada di atas mimbar-mimbar cahaya. Para nabi, sahabat dan syuhada merasa cemburu terhadap mereka”. [Hadis Ibnu Hibban dll] 
4.      Beribadah dengan amal yang paling utama. 
Daripada Mu’az bin Anas, RasululLah saw telah ditanya: tentang apakah amal yang paling utama?, Jawab RasululLah saw: “Kamu mencintai dan membenci kerana Allah dan kamu menggunakan lidahmu untuk mengingatiNya.” RasululLah saw ditanya lagi: “Apa lagi wahai RasululLah?” RasululLah saw menjawab: “Bahawa kamu suka untuk manusia apa yang engkau suka untuk dirimu sendiri dan engkau tidak suka untuk manusia apa yang engkau tidak suka untuk dirimu sendiri.” [Hadis Imam Ahmad] 
5.      Terhindar dari rasa takut dan dukacita 
Umar r.a meriwayatkan, bahawa RasululLah saw bersabda:“Di antara hamba-hamba Allah ada manusia yang bukan para nabi dan bukan pula para syuhada, tetapi pada hari qiamat para nabi dan para syuhada cemburu kepada mereka kerana kedudukan (istimewa)nya di sisi Allah.” Para sahabat bertanya; “Wahai RasululLah! Beritahu kami siapakah gerangan mereka itu?” Rasulullah saw menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai kerana Allah, bukan kerana hubungan keluarga dan bukan kerana harta yang mereka saling berikan. Demi Allah! Muka mereka itu bercahaya, mereka berada di atas cahaya, tidak merasa takut ketika orang-orang lain merasa takut, tidak berdukacita ketika orang lain berdukacita”.
Kemudian RasululLah saw membacakan ayat:
أَلآ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut dan mereka tidak bersedih hati”. [QS.10 (Yunus):(62)].
6.      Terampuni segala dosa
 Rasulullah Saw bersabda:  “Jika dua orang Muslim bertemu dan kemudian mereka saling berjabat tangan, maka dosa-dosa mereka hilang dari kedua tangan mereka, bagai berjatuhan dari pohon.” (Hadis yang ditkhrij oleh Al-Imam Al-Iraqi, sanadnya dha’if).

7.      Merasakan manisnya iman
 Rasulullah Saw. bersabda:

“Ada tiga golongan yang dapat merasakan manisnya iman: orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari mencintai dirinya sendiri, mencintai seseorang karena Allah, dan ia benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci jika ia dicampakkan ke dalam api neraka.” (HR. Imam Bukhari).

8.      Menjadi ahli surga di akhirat kelak
 Rasulullah Saw. bersabda:

 “Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka malaikat berseru, ‘Berbahagialah kamu, berbahagialah dengan perjalananmu, dan kamu telah mendapatkan salah satu tempat di surga.” (HR. Imam Al-Tirmizi). Rasulullah Saw. Bersabda: “Sesungguhnya di sekitar arasy Allah ada mimbar-mimbar dari cahaya. Di atasnya ada kaum yang berpakaian cahaya. Wajah-wajah mereka bercahaya. Mereka bukanlah para nabi dan bukan juga para syuhada. Dan para nabi dan syuhada cemburu pada mereka karena kedudukan mereka di sisi Allah.” Para sahabat bertanya, “Beritahukanlah sifat mereka wahai Rasulallah. Maka Rasul bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, bersaudara karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah.” (Hadis yang ditakhrij Al-Hafiz Al-Iraqi, ia mengatakan, para perawinya tsiqat).

9.      Bersaudara karena Allah adalah amal mulia yang akan mendekatkan seorang hamba dengan Allah
 Rasul pernah ditanya tentang derajat iman yang paling tinggi, beliau bersabda, “…Hendaklah kamu mencinta dan membenci karena Allah…” Kemudian Rasul ditanya lagi, “Selain itu apa wahai Rasulullah?” Rasul menjawab, “Hendaklah kamu mencintai orang lain sebagaimana kamu mencintai dirimu sendiri, dan hendaklah kamu membenci bagi orang lain sebagaimana kamu membenci bagi dirimu sendiri.” (HR. Imam Al-Munziri).
Menumbuhkan rasa persaudaraan. 
Melihat kepada faedah ukhuwah yang banyak itu, sudah pasti kita semua ingin meraihnya, bagaimanakah menumbuhkan rasa persaudaraan itu?
1.   Iman yang sempurna.
Keimanan yang sempurna menuntut setiap mukmin menjalankan urusan setiap aspek kehidupannya berdasarkan hukum-hukum al-Quran dan hadis-hadis RasululLah saw. Mukmin ini bagaikan al-Quran yang berjalan di muka bumi. Wahyu-wahyu Allah SWT adalah amal perbuatan, denyut nadi dan jantungnya. Pada ketika itu jiwa-jiwa para mukmin bertaut dalam satu kesatuan padu, kesatuan akidah, matlamat, neraca, pemikiran, perasaan dan lain-lain lagi. 
Imam Malik hairan melihat seekor merpati berkawan dengan seekor gagak, spontan ia berkata: “Kedua-duanya dapat bersatu, padahal jenisnya tidak sama?.” Ketika burung itu terbang, ia melihat kedua-dua burung itu dalam keadaan cacat, lalu ia berkata: “Sebab itulah burung itu dapat bersatu”. 
2.   Menyebar dan menghayati ucapan salam
Nabi saw bersabda:
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوا جَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا وَلاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا 
أَلآ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتَمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ.
“Demi Allah yang jiwaku berada di tanganNya, kamu tidak akan masuk syurga sehingga kamu beriman dan kamu tidak (sempurna) beriman sehinggalah kamu saling mencintai, mahukah aku tunjukkan suatu perkara, apabila kamu lakukan, kamu akan saling berkasih sayang? Sebarkanlah salam di antara kamu”. [Hadis Muslim]
Firman Allah :
وَ مَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى  إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوحَى
"Tiadalah yang diucapkan (oleh Muhammad) itu menurut kemahuan hawa nafsunya. Ucapan itu tidak lain adalah wahyu Allah yang diwahyukan kepadanya“    [QS. 53 (An-Najm), 3-4] 
Menyebarkan salam, “ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه” bukanlah sekadar ucapan di bibir sahaja. Ucapan salam bukan azimat atau tongkat sihir, bila diucapkan, terus menyentuh hati-hati yang hitam oleh asap kemungkaran, kedengkian, saling sakit hati, bermusuhan, berkelahi, tuduh menuduh, curiga mencurigai, tiba-tiba secara spontan akan menjadi putih, bersinar dengan nur kasih sayang dan ukhuwah. Sudah tentu tidak! Tetapi pastikan ucap salam itu mengandungi tiga pengertian yang luhur ini: 

Pertama: Mengandung Arti Cinta dan Kasih-Sayang. 
Bila bertemu dengan saudara muslim, tunjukanlah wajah ceria dan bahagia, hulurkanlah tangan dan jabatlah tangan saudaramu dengan ikhlas dan penuh rasa kasih-sayang. Buangkan segala rasa negatif yang bersarang di hati antara kamu berdua oleh hasutan syaitan terkutuk!!!. Satukan kedua-dua hatimu dengan ikatan kasih sayang, iringi ucapan salam itu dengan lafaz; “ يَا أَخِى – اختى إِنِّى أُحِبُّكَ
Maksud "Saudaraku, aku sayang / kasih padamu".
Jawablah bisikan kasih cinta saudaramu dengan lafaz; “أَحَبَّكَ اللهُ الَّذِىْ مِنْ اَجْلِهِ اَحْبَبْتَنِي
Bermaksud " Semoga Allah menyayangi / mengasihi -mu yang demi Dia kamu menyayangi / mengasihi -ku". 
Jangan Diucap dengan Jiwa Hampa. 
Ucapan salam adalah tanda kasih-sayang di antara dua hati yang saling menyayangi. Justeru itu jangan diucapkan dengan jiwa hampa, sambil lewa, dingin dan tanpa semangat tetapi ucapkanlah dengan penuh rasa rindu, cinta kasih dan semangat persaudaraan Islam kerana mengucapkan salam kepada saudara seagama (akhi filLah) bererti memohon dicurahkan rahmat dan berkat kepadanya daripada Allah ‘Azza wa Jalla Pencipta Langit, maka janganlah ini dipandang remeh. 
Kedua: Ucapan salam di awal pertemuan, adalah suatu perisytiharan “PEACE” damai, aman, tenang dan sejahtera kerana dalam suasana bersama-sama itu, apa yang didamba hanya untuk menikmati suasana yang menyenangkan dan membahagiakan. Bahawa kedua-duanya benar-benar tidak akan menyakiti, tidak membahayakan saudaranya, tidak akan berdusta, menipu, berbuat jahat, bermusuh, mengumpat, mencaci, buruk sangka serta menghina dan tidak akan melakukan suatu apa pun yang menyakiti saudaranya. Seandainya hal itu terjadi bererti ucapan salam itu dusta dan hanyalah omong kosong. Apakah balasan bagi orang yang berdusta?
 Firman Allah:
إِنَّمَا يَفْتَرِى الْكَذِبَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِئَايَـتِ اللهِ 
Sesungguhnya yang melakukan dusta, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah”.[QS. 16 (An-Nahl): 105] 
Ketiga: Mengandungi doa dan harapan agar Allah swt melimpahkan keberkatan dan kebaikan kepada sesama saudara (bukan sahaja tidak menyakiti).
Ucapan اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ memberi jaminan agar dalam suasana bersama-sama dan dalam persaudaraan / persahabatan itu, tidak akan berlaku percakapan, perbincangan, perancangan, perbuatan kecuali yang baik-baik dan tidak akan ada sama sekali membicarakan hal-hal orang lain kecuali yang baik-baik semuanya.  Ucapan salam sarat dengan doa memohonkan rahmat dan berkat daripada Allah swt untuk sesama saudara muslim. 
Nabi saw bersabda tentang dirinya:
“ Saya adalah rahmat dan petunjuk.”
[Hadis Al-Hakim dan ad-Dhahabi] 
Tahapan-tahapan Ukhuwah
Untuk membangun ukhuwah, diperlukan beberapa tahapan yaitu:
1.      Ta’aruf, yaitu saling mengenal. Pepatah bilang: ‘Tak kenal maka tak sayang.’ Apalagi saling mengenal antara kaum muslimin merupakan wujud nyata ketaatan kepada perintah Allah SWT (Q.S. Al Hujurat: 13)
2.      Tafahum, yaitu saling memahami. Hendaknya seorang muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya meminta, karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya yang harus ia tunaikan. Abu Hurairah r.a., dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda, “Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa menutupi aib di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.” (H.R. Muslim)
3.      ta’awun, yaitu saling membantu dan menolong, tentu saja dalam kebaikan dan meninggalkan kemungkaran.
Syarat dan Hak Ukhuwah
Ukhuwah memiliki beberapa syarat dan hak yang harus kita penuhi yaitu:
1.      Hendaknya kita bersaudara untuk mencari keridhaan Allah, bukan kepentingan atau berbagai tujuan duniawi. Tujuannya ridha Allah, mengokohkan internal umat Islam, berdiri tegar di hadapan konspirasi yang berusaha menghancurkan agama Islam. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya…” (HR. Imam Bukhari).
2.      Hendaknya kita saling tolong-menolong dalam keadaan suka dan duka, senang atau tidak, mudah maupun susah. Rasul bersabda, “Muslim adalah saudara muslim, ia tidak mendhaliminya dan tidak menghinanya… tidak boleh seorang muslim bermusuhan dengan saudaranya lebih dari tiga hari, di mana yang satu berpaling dari yang lain, dan yang lain juga berpaling darinya. Maka yang terbaik dari mereka adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Imam Muslim).
3.      Hendaknya kita memenuhi hak-hak umum dalam ukhuwah. Rasul bersabda: “Hak muslim atas muslim lainnya ada enam, yaitu jika berjumpa ia memberi salam, jika bersin ia mendoakannya, jika sakit ia menjenguknya, jika meninggal ia mengikuti jenazahnya, jika bersumpah ia melaksanakannya.” (HR. Imam Muslim).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa syarat-syarat Ukhuwah adalah Ikhlas lilLahi Ta’ala, disertai iman dan taqwa,ke arah melaksanakan syariat, saling menasihati,tolong menolong dalam masa senang dan susah .
Hal-hal yang menguatkan ukhuwah islamiyah:
  1. Memberitahukan kecintaan kepada yang kita cintai. Hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda: “ Ada seseorang berada di samping Rasulullah lalu salah seorang sahabat berlalu di depannya. Orang yang disamping Rasulullah tadi berkata: ‘Aku mencintai dia, ya Rasullah.’ Lalu Nabi menjawab: ‘Apakah kamu telah memberitahukan kepadanya?’ Orang tersebut menjawab: ‘Belum.’ Kemudian Rasulullah bersabda: ‘Beritahukan kepadanya.’ Lalu orang tersebut memberitahukan kepadanya seraya berkata: ‘ Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.’ Kemudian orang yang dicintai itu menjawab: ‘Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.”
  2. Memohon didoakan bila berpisah. “Tidak seorang hamba mukmin berdo’a untuk saudaranya dari kejauhan melainkan malaikat berkata: ‘Dan bagimu juga seperti itu” (H.R. Muslim).
  3. Menunjukkan kegembiraan dan senyuman bila berjumpa. “Janganlah engkau meremehkan kebaikan (apa saja yang dating dari saudaramu), dan jika kamu berjumpa dengan saudaramu maka berikan dia senyum kegembiraan.” (H.R. Muslim)
  4. Berjabat tangan bila berjumpa (kecuali non muhrim). “Tidak ada dua orang mukmin yang berjumpa lalu berjabatan tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah.” (H.R Abu Daud dari Barra’)
  5. Sering bersilaturahmi (mengunjungi saudara)
  6. Memberikan hadiah pada waktu-waktu tertentu
  7. Memperhatikan saudaranya dan membantu keperluannya
  8. Memenuhi hak ukhuwah saudaranya
  9. Mengucapkan selamat berkenaan dengan saat-saat keberhasilan
Hadis-hadis tentang Ukhuwah diantaranya: 
من آخَى أخاً فى الله رَفَعَهُ اللهُ درجةً فى الجنةِ لا 
ينالُها بشَئٍ من عملِهِ .
رواه ابن أبى الدنيا. 
“Barangsiapa mengangkat seseorang menjadi saudaranya kerana Allah, Allah akan mengangkatnya satu darjat di syurga, yang tidak akan diperolehi dengan satu pun amal ibadahnya.” 
حقّتْ مَحَبَّتى للمتَحابِّيْنَ فىَّ، وحقّت محبَّتى للمُتَزاوِرِيْنَ فِىَّ وحقَّتْ محبَّتى للمُتَبَذِلِيْنَ فىَّ و حقَّت محبتى للمتَواصليْنَ فىَّ. 
رواه أحمد.
“CintaKu merupakan hak orang-orang yang saling mencintai keranaKu, cintaKu merupakan hak orang-orang yang saling mengunjungi keranaKu, cintaKu merupakan hak orang-orang yang saling berlumba berjuang fisabilLah keranaKu dan cintaku merupakan hak orang-orang yang saling berhubung keranaKu.” 
ما أَحَبَّ عبْدٌ عَبْداً للهِ عَزَّ و جَلَّ إِلاّ أَكْرَمَ ربَّه عَزَّ و جَلَّ. 
رواه أحمد.
“Seorang yang mencintai saudaranya kerana Allah sebenarnya ditelah memuliakan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agong.” 


إذا زار المسلمُ أخاه فى اللهِ عز و جلَّ أو عاده ، قال الله عز و جل : طِبْـتَ و تَبَوَّأْتَ من الجنةِ منزلاً.
 رواه أحمد.     
 “Apabila seorang muslim menziarahi saudara muslim semata-mata kerana Allah atau menziarahi saudaranya yang sedang sakit, berkata Allah : Engkau dirahmati dan engkau telah membina sebuah tempat tinggal di dalam syurga.” 


إنَّ أَحَبَّكم إلىَّ أَحأسِنُكم أخلاقاً المُوَطِّئونَ أَكْنافأً،الذين يأْلَفُونَ ويُؤلَفون. وإِن أبْغَضُكُم إِلَىَّ الْمَشَّاؤُنَ بالنَّمِيْمَةِ الْمُفَرَّقُون بَيْنَ الأَحِبَّةِ الْمُلْتَبِسُونَ للبَرَّاءِ العَيْبِ.
“Sesungguhnya orang yang paling Aku cintai di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya: yang rendah hati, yang paling akrab dan mudah diakrabi. Sedang yang paling Aku benci di antara kalian ialah orang yang kemana-mana menabur fiitnah, yang memecah-belah orang yang saling mencintai dan yang saling mencari cacat orang yang bersih.” 
المُؤْمنُ مُؤْلَفٌ ولا خَيْرَ فيمن لا يَأْلَفُ و لآ يُؤْلَفُ.
رواه أحمد
“Orang mu’min itu tempat kasih sayang, maka tidak ada kebaikan bagi yang tidak mengasihi dan tidak dikasihi.”



Sekian mengenai ukhuwah islamiyah, semoga bermanfaat dan semakin erat tali persaudaraan nya yach........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar